Ada banyak bahan radioaktif yang “berkeliaran” bebas di sekitar kita, salah satunya pisang. Yap, kamu nggak salah dengar. Salah satu buat tropis ini umum kita jumpai di toko buah, pasar, maupun supermarket; bahkan pohonnya pun hidup subur di Indonesia. Meskipun mengandung zat radioaktif, kandungan radioaktif dalam buah pisang tidaklah banyak. Jadi buah ini aman untuk kita makan, malah banyak kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh kita. Lalu apakah ada benda lain yang mengandung bahan radioaktif? Semakin menarik untuk kita bahas.
Pisang
Pisang merupakan salah satu buah tropis yang banyak tumbuh di Indonesia, bahkan di Indonesia sendiri ada banyak sekali jenis pisang. Menariknya, pisang mengandung isotop radioaktif Kalium-40 meskipun jumlahnya sangat sedikit. Karena kandungan zat radioaktif yang sedikit ini, efek paparan radiasi yang ditimbulkan dari mengonsumsi pisang tidak sebesar paparan sumber radiasi lain.
Ada sebuah jurnal yang membahas potensi K-40 pada kulit pisang sebagai bahan baku baterai nuklir betavoltaik. Baterai betavoltaik ini adalah salah satu dari jenis baterai nuklir yang memanfaatkan konversi energi radiasi menjadi energi listrik menggunakan komponen semikonduktor. Perlu kamu tahu bahwa radioisotop K-40 dapat mengemisi energi beta negatif dan gamma lebih dari 1 MeV. Dengan jenis pisang yang diekstraksi K-40 dari kulitnya adalah pisang kepok dan pisang ambon. Jika kamu penasaran tentang penelitian tersebut, kamu bisa membaca jurnalnya dengan judul “Identifikasi Potensi Radioaktivitas pada Pisang Ambon (Musa paradisiaca) dan Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata balbisiana) untuk Aplikasi Baterai Nuklir”.
Selai Kacang
Berdasarkan jurnal BAPETEN, semua makanan yang mengandung radioaktif memiliki kandungan karbon dengan isotop alami yang kadarnya sedikit sehingga tidak berbahaya. Salah satu contohnya adalah selai kacang yang memiliki isotop Potasium-40, Radium-226, dan Radium-228. Sehingga selai kacang mengandung zat radioaktif yang dapat memancarkan radiasi sebesar 0,12 pCi/g. Tentu saja kekuatan pancaran radiasi ini sangatlah lemah dan akan berhenti kurang dari 10 tahun.
Rokok
Material-material yang mengandung zat radioaktif alami umumnya dikenal sebagai Naturally Occurring Radioactive Materials (NORM). Beberapa zat radioaktif beresiko tinggi karena berpotensi menjadi pemicu kanker (karsinogenik), meskipun dengan kadar yang sedikit. Sedangkan dosis ambang batas paparan radiasi pada tubuh manusia tidak lebih dari 500 mSv/tahun.
Pada tahun 2010, Dr. Johan Noor–Dosen Fisika Universitas Brawijaya pernah melakukan penelitian kandungan Polonium (Po-210) dan Timbal (Pb-210) di dalam tembakau. Tembakau adalah bahan utama dalam pembuatan rokok. Keberadaan Polonium dan Timbal ini di alam sangatlah kecil, Polonium biasanya tersebar bebas di udara dan Timbal berada di dalam tanah. Jika mengalami peluruhan, kedua isotop ini akan menghasilkan sinar alfa.
Penelitian ini dilakukan dengan menjebak asap pembakaran rokok menggunakan CR-39 (polycarbonat) dan dibiarkan bereaksi dengan gas Helium selama 48 jam. Dalam hasil penelitian didapatkan bahwa konsentrasi isotop Polonium dan Timbal paling tinggi ada di rokok kretek filter sebesar 9.9 mBq/batang. Dengan rata-rata konsentrasi isotop Polonium dan Timbal setiap jenis rokok adalah 8.2 mBq/batang.
Kemudian pada tahun 2021, kerja sama riset Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Andalas dengan Laboratorium Lingkungan PTKMR BATAN, juga melakukan pengukuran konsentrasi radionuklida pada tembakau. Radionuklida atau zat radioaktif yang diukur ini adalah isotop Radium (Ra-226), Timbal (Ph-210), Polonium (Po-210), dan Kalium (K-40). Mereka melakukan pengukuran pada tembakau menggunakan spektrometer gamma dan RAD7.
Lampu Minyak (Gas Lamp)
Kamu mungkin pernah mendengar tentang lampu petromaks atau lampu strongking. Meskipun petromax dan stormking adalah nama merk dari lampu minyak di tahun 1900-an, lampu ini biasa dikenal sebagai gas lamp. Bagian lampu yang seperti jaring dan menghasilkan cahaya putih ini disebut sebagai gas mantle (kaus lampu). Pada kaus lampu inilah terdapat kandungan Thorium yang tidak boleh kita pegang secara langsung, meskipun sudah terbakar menjadi abu.
Karena kandungan zat radioaktif di dalam kaus lampu ini, sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mendeteksi Thorium. Contohnya adalah jurnal yang terbit di tahun 2012 dan 2015. Kamu bisa membaca kedua jurnal tersebut dengan judul “Penentuan Aktivitas Unsur Radioaktif Thorium yang Terkandung dalam Prototipe Sumber Radiasi Kaos Lampu” dan “Deteksi Thorium pada Kaos Lampu Petromaks Menggunakan Spektrometer Beta dengan Detektor Sintilasi Bahan Organik Naftalen”.
Thorium yang digunakan pada kerosene lamp ini diekstraksi dari batuan Thorium menjadi isotop Th-232 (Thorium alam). Thorium menjadi salah satu sumber radioaktif yang memancarkan energi sinar alfa dan beta, sehingga paparan radiasi yang ditimbulkannya cukup kecil. Meskipun begitu, pada tahun 1999 BAPETEN mengeluarkan peraturan tentang Ketentuan Keselamatan Pabrik Kaos Lampu. Hal ini karena dalam pembuatannya melibatkan unsur radioaktif sehingga tetap memiliki potensi bahaya radiasi bagi pekerja, masyarakat, dan lingkungan.
Kesimpulan
Itu dia benda-benda yang mengandung bahan radioaktif di dalamnya. Meskipun nuklir atau radiasi terkesan menakutkan, ternyata banyak hal di sekitar kita yang memancarkan radiasi. Terutama makanan yang biasa kita konsumsi seperti pisang dan selai kacang, dan masih banyak makanan lain yang mengandung zat radioaktif alami. Selain itu, salah satu barang yang bersifat karsinogenik yang biasa kita lihat di minimarket maupun warung yaitu rokok juga mengandung zat radioaktif. Dan ada satu benda antik yang bisa kamu tanyakan ke orang tuamu mengenai lampu petromaks/lampu strongkeng, bahwa bahan kausnya mengandung Thorium. Jadi jangan khawatir jika ada benda yang mengandung radioaktif selama masih dalam batas wajar. Semoga informasi dalam artikel ini membantu.
Referensi
Cahya, Indra. (2018, 04 Juni). 7 Barang yang Sering Digunakan Ini Ternyata Mengandung Zat Radioaktif. Diakses pada 30/04/2026 dari https://www.liputan6.com/tekno/read/3547433/7-barang-yang-sering-digunakan-ini-ternyata-mengandung-zat-radioaktif
Saputro, Tedy T. (2013, 15 September). Radiasi Nuklir dari Lampu Petromaks. Diakses pada 30/04/2026 dari https://www.kompasiana.com/detik19/55297436f17e61df728b45ab/radiasi-nuklir-dari-lampu-petromaks#goog_rewarded
Putri, Reta P. (2024, 24 Agustus). Fakta Menarik tentang Pisang dan Radioaktiv. Diakses pada 30/04/2026 dari https://rri.co.id/bandung/berita-lain/925618/fakta-menarik-tentang-pisang-dan-radioaktiv
Helmenstine, Anne Marie, Ph.D. (2025, Juni 10). 10 Common Naturally Radioactive Foods. Diakses pada 01/05/2026 dari https://www.thoughtco.com/common-naturally-radioactive-foods-607456
Rahastama, S., et al. 2024. Identifikasi Potensi Radioaktivitas pada Pisang Ambon (Musa paradisiaca) dan Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata balbisiana) untuk Aplikasi Baterai Nuklir. SPECTA Journal of Technology, 8(2), 91-98
Rimadianny, H., et al. 2019. Pengaturan Peraturan Material Radioaktif dalam Industri Makanan yang Terkontaminasi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”, 1-8
Tik-UB. (2011, 28 Februari). Penelitian Dr. Johan Noor: Mengukur Konsentrasi Polonium dan Timbal pada Tembakau. Diakses pada 03/05/2026 dari https://prasetya.ub.ac.id/penelitian-dr-johan-noor-mengukur-konsentrasi-polonium-dan-timbal-pada-tembakau/
Siyami, R. M., et al. 2021. Penentuan Konsentrasi Radionuklida (²²⁶Ra, ²¹⁰Pb, ²¹⁰Po, dan ⁴⁰K) pada Tembakau Rokok yang Beredar di Kota Padang Menggunakan Spektrometer Gamma dan RAD7. Jurnal Fisika Unand (JFU), 10(3), 344-350
Nugraheni, A., et al. 2012. Penentuan Aktivitas Unsur Radioaktif Thorium yang Terkandung dalam Prototipe Sumber Radiasi Kaos Lampu. Jurnal MIPA, 35(1), 31-37
Putri, N. G., et al. 2015. Deteksi Thorium pada Kaos Lampu Petromaks Menggunakan Spektrometer Beta dengan Detektor Sintilasi Bahan Organik Naftalen. Youngster Physics Journal, 4(4), 299-304
BAPETEN. 1999. KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR Nomor 14 Tahun 1999 TENTANG KETENTUAN KESELAMATAN PABRIK KAOS KAKI. Jakarta : BAPETEN
Kredit Gambar
Public Domain. Ilustrasi karya Carry Bass https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Radioactive.svg
CC BY-SA 3.0. Foto karya Timothy Pilgrim https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bananavarieties.jpg
CC BY-SA 3.0. Foto karya Piccolo Namek https://commons.wikimedia.org/wiki/File:PeanutButter.jpg#mw-jump-to-license
CC BY-SA 3.0. Foto karya Geierunited https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Cigarette.jpg#mw-jump-to-license
Public Domain. Foto Wikipedia Jerman https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Dfr_px826.jpg#mw-jump-to-license
CC BY-SA 3.0. Foto karya Foupointsix https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Glowing_gas_mantle.jpg#mw-jump-to-license