Daftar Isi Artikel
Kembali ke Artikel

Celah dalam Relativitas: Ketika Partikel Melaju Lebih Cepat dari Cahaya

30
Views
8
Menit Baca
1513
Kata
0
Dibagikan

Relativitas khusus Einstein menetapkan satu batas yang selama ini dianggap mutlak dan tidak ada yang bisa melaju hingga melampaui kecepatan cahaya di ruang hampa sekitar 299.792.458 meter per detik, atau sering diingat sebagai 300.000 kilometer per detik. Tapi ternyata terdapat sebuah celah yang sering luput dari perhatian, yaitu cahaya tidak selalu bergerak di ruang hampa.

Saat menembus air, kaca, atau medium lainnya, cahaya akan melambat, dan dengan melambatnya cahaya pada medium membuka kemungkinan yang mengejutkan, dimana partikel tertentu bisa bergerak lebih cepat dari cahaya di dalam medium tersebut, tanpa melanggar satupun hukum fisika.

Ketika itu terjadi, alam semesta merespons dengan cahaya berwarna biru indah yang dinamai radiasi Cherenkov.

Kolam reaktor riset UMass Lowell yang memancarkan cahaya biru khas radiasi Cherenkov. Kredit gambar : University of Massachusetts, Lowell (Public Domain Mark 1.0)

Kecepatan Cahaya dalam Medium

Untuk memahami mengapa partikel bisa "mengalahkan" cahaya di dalam suatu medium, kita perlu memahami satu sifat cahaya yang sering diabaikan.

Saat cahaya merambat melalui medium air, kaca, atau bahkan udara, ia berinteraksi dengan partikel-partikel penyusun medium tersebut. Interaksi cahaya dengan medium memperlambat lajunya. Seberapa besar laju yang hilang ditentukan oleh sifat medium itu sendiri, yang dinyatakan dalam sebuah nilai yang disebut indeks bias.

Indeks bias adalah perbandingan antara kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di dalam medium. Air memiliki indeks bias sekitar 1,33, artinya cahaya di dalam air hanya bergerak sekitar 75% dari kecepatannya di ruang hampa, atau sekitar 225.000 kilometer per detik. Di sinilah partikel bisa mengalahkan laju dari cahaya. Kecepatan cahaya di dalam medium bukanlah batas mutlak. Ia hanyalah konsekuensi dari sifat medium itu sendiri, dan konsekuensi bisa diatasi. Partikel bermuatan yang membawa energi cukup besar bisa bergerak lebih cepat dari cahaya di dalam medium tersebut. Sesuatu yang mustahil di ruang hampa, tapi nyata di sini.

Pavel Cherenkov

Di balik nama fenomena ini ada kisah menarik. Pada 1934, fisikawan muda Pavel Alekseyevich Cherenkov sedang mengerjakan disertasinya di laboratorium Institut Fisika Lebedev, Moskow, hingga cahaya biru lemah yang memancar dari botol berisi air yang disinari sumber radioaktif mengusik fokusnya. Lemah, tapi cukup untuk membuat Cherenkov berhenti dan bertanya.

Cherenkov mendokumentasikannya dengan teliti. Tapi mengapa cahaya itu muncul? Pertanyaan itu baru terjawab tiga tahun kemudian oleh Igor Tamm dan Ilya Frank. Pada 1958, ketiganya menerima Nobel Prize dalam fisika, penghargaan atas sebuah penemuan yang bermula dari gangguan kecil yang tidak diabaikan.

Apa yang Terjadi Saat Partikel Bermuatan Melintas

Untuk memahami mengapa cahaya biru itu muncul, kita perlu menyelam ke skala yang jauh lebih kecil di level molekul, bahkan elektron.

Saat partikel bermuatan bergerak menembus suatu medium, ia tidak bergerak di ruang kosong. Di sekitarnya ada molekul-molekul medium yang masing-masing memiliki muatan sisi positif dan sisi negatif. Dalam kondisi normal, orientasi molekul-molekul ini acak ke segala arah dan saling meniadakan.

Tapi kehadiran partikel bermuatan mengubah itu. Medan listrik yang dibawa partikel menarik sisi-sisi molekul yang berlawanan muatan, molekul-molekul di sekitar jalur partikel sebentar ikut terorientasi, sejajar mengikuti medan. Fisikawan menyebut proses ini polarisasi medium.

Perbandingan orientasi molekul medium dalam kondisi normal (kiri) dan saat partikel bermuatan melintas (kanan), yang menyebabkan polarisasi medium dan memancarkan cahaya. Kredit gambar : Dheptian (Pajajaran Physical Society)

Begitu partikel berlalu, molekul-molekul itu kembali ke orientasi acak semula. Dan disinilah cahaya lahir, proses "balik badan" itu melepaskan energi dalam bentuk foton. Pada skala kuantum, yang terjadi lebih spesifik lagi. Elektron-elektron dalam molekul medium sempat tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi, lalu kembali ke keadaan dasarnya sambil memancarkan foton.

Setiap titik sepanjang jalur partikel menjadi sumber cahaya. Pertanyaannya sekarang, "mengapa cahaya-cahaya itu tidak saling meniadakan, melainkan justru membentuk kilatan biru yang koheren?"

Simetris VS Asimetris

Jawabannya ada pada kecepatan partikel.

Bayangkan partikel bermuatan bergerak lambat di dalam medium, lebih lambat dari kecepatan cahaya di medium tersebut. Setiap titik yang dilaluinya memancarkan gelombang cahaya ke segala arah, seperti riak di permukaan air. Karena partikel bergerak lebih lambat dari cahayanya sendiri, gelombang-gelombang itu menyebar dengan leluasa, dan medan polarisasi di sekitar partikel terbentuk secara simetris. Gelombang yang dipancarkan dari berbagai titik saling meniadakan satu sama lain. Tidak ada cahaya yang teramati.

Saat partikel bermuatan bergerak lebih cepat dari cahaya di dalam medium (v > c medium), gelombang cahaya dari tiap titik sepanjang lintasan menumpuk sefase dan membentuk muka gelombang berbentuk kerucut akibat interferensi konstruktif inilah radiasi Cherenkov.Kredit gambar : Dheptian (Pajajaran Physical Society)

Sekarang bayangkan partikel yang sama bergerak lebih cepat dari cahaya di medium tersebut. Partikel itu kini mendahului gelombang cahayanya sendiri. Medan polarisasi di sekitarnya tidak lagi simetris karena molekul-molekul medium tidak punya cukup waktu untuk kembali ke keadaan acak mereka sebelum partikel sudah berlalu.

Akibatnya, gelombang-gelombang cahaya dari berbagai titik tidak lagi saling meniadakan. Mereka justru menumpuk dan selaras satu sama lain. Interferensi konstruktif terjadi, dan hasilnya adalah muka gelombang berbentuk kerucut yang merambat pada sudut tertentu terhadap arah gerak partikel. Inilah radiasi Cherenkov.

Analogi akustiknya mungkin sudah familiar dengan ledakan sonik yang terjadi saat pesawat menembus kecepatan suara. Prinsipnya sama, hanya saja yang "meledak" di sini bukan gelombang suara, melainkan cahaya.

Mengapa Berwarna Biru?

Radiasi Cherenkov sudah terjelaskan. Tapi ada satu pertanyaan yang mungkin masih menggantung, "mengapa cahaya nya berwarna biru?"

Radiasi Cherenkov sebenarnya memancarkan spektrum cahaya yang kontinu, mencakup berbagai panjang gelombang sekaligus. Tapi tidak semua panjang gelombang dipancarkan dengan intensitas yang sama. Semakin pendek panjang gelombangnya, semakin besar intensitas yang dipancarkan. Cahaya biru dan ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dibanding merah dan kuning, sehingga keduanya jauh lebih dominan dalam spektrum Cherenkov.

Lalu mengapa bukan ungu atau bahkan ultraviolet yang kita lihat, padahal panjang gelombangnya lebih pendek lagi? Di sinilah medium memainkan perannya. Air menyerap cahaya ultraviolet secara kuat, sehingga cahaya dengan panjang gelombang terpendek itu tidak sempat mencapai mata kita. Yang tersisa dan sampai ke mata adalah rentang biru kehijauan.

Pada skala yang lebih dalam, proses ini melibatkan elektron-elektron dalam molekul medium. Setiap kali partikel bermuatan melintas, elektron-elektron itu sempat tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi, lalu kembali ke keadaan dasarnya sambil melepaskan foton. Karena jumlah molekul yang terlibat sangat besar dan bervariasi, energi foton yang dilepaskan pun beragam. Hasilnya secara makroskopik tampak seperti spektrum yang kontinu, meski di level kuantum setiap peristiwa emisi foton itu bersifat diskret.

Aplikasi

Radiasi Cherenkov bukan hanya fenomena yang indah secara teoritis. Ia dimanfaatkan untuk mengintip salah satu misteri terbesar alam semesta mengenai dari mana datangnya sinar kosmik berenergi sangat tinggi.

Setiap saat, partikel-partikel berenergi sangat tinggi dari luar angkasa menghantam atmosfer bumi. Saat bertumbukan dengan molekul-molekul atmosfer, partikel ini memicu kaskade reaksi yang menghasilkan ratusan bahkan ribuan partikel sekunder. Beberapa bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya di atmosfer, menghasilkan kilatan Cherenkov yang sangat singkat di langit malam, hanya beberapa nanodetik, tidak kasat mata tanpa alat khusus, tapi nyata.

Di sinilah peran teleskop Cherenkov atmosferik seperti MAGIC di Kepulauan Canaria, H.E.S.S. di Namibia, dan VERITAS di Arizona. Dari bentuk dan sudut kilatan yang tertangkap, fisikawan bisa merekonstruksi: partikel apa yang datang, dari arah mana, dan berapa energinya. Atmosfer bumi sendiri yang menjadi detektor.

Aplikasi yang lebih dekat bisa ditemukan di kolam reaktor nuklir. Elektron berenergi tinggi hasil peluruhan radioaktif melaju melampaui kecepatan cahaya di dalam air, menghasilkan cahaya biru yang bersinar terus-menerus selama reaktor beroperasi. Cahaya ini bukan sekadar estetik, seperti IAEA yang memanfaatkannya untuk memverifikasi kondisi bahan bakar nuklir tanpa perlu menyentuhnya.

Pemindahan elemen bahan bakar dari reaktor High Flux Isotope Reactor (HFIR) saat refueling, cahaya biru Cherenkov terlihat memancar dari elektron yang bergerak lebih cepat dari cahaya di dalam air. Kredit gambar : Jason Richards/ORNL, Oak Ridge National Laboratory (CC BY 2.0)

Dan cahaya biru yang pertama kali membuat Cherenkov berhenti dan bertanya di laboratoriumnya pada 1934, kini menjadi alat untuk membaca jejak partikel dari sudut terjauh alam semesta, sekaligus menjaga keamanan bahan bakar nuklir di kolam-kolam yang bersinar diam di bawah tanah.

Kesimpulan

Tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya. Kalimat itu benar, tapi seperti yang sudah kita ketahui bersama, ia menyimpan sebuah celah yang jarang dibicarakan.

Kilatan nanodetik di langit malam yang ditangkap teleskop di Namibia dan Arizona, bahkan gangguan kecil yang membuat Cherenkov berhenti di laboratoriumnya pada 1934, semuanya berasal dari fenomena yang sama. Sebuah konsekuensi elegan dari fisika yang bekerja persis seperti seharusnya.

Radiasi Cherenkov bukan pengecualian dari hukum alam. Ia adalah bukti bahwa hukum alam jauh lebih kaya dari kesan pertamanya. Dan kadang, untuk melihat kekayaan itu, cukup dengan tidak mengabaikan cahaya kecil yang tidak seharusnya ada.

Referensi

Fowler, M. (2022). Cherenkov Radiation, Bremsstrahlung, Etc. Lecture Notes, University of Virginia. Diakses pada 12/08/2026 dari https://galileoandeinstein.phys.virginia.edu/Elec_Mag/2022_Lectures/EM_70_Cherenkov_Radiation.html

Amoroso, R. (2013). Unified Geometrodynamics: A Complementarity of Newton's and Einstein's Gravity. Diakses pada 12/08/2026 dari https://www.researchgate.net/figure/Geometry-of-Cherenkov-radiation-In-the-figure-v-is-the-velocity-of-the-particle_fig2_260667021

The Nobel Prize. Pavel A. Cherenkov – Facts. Diakses pada 12/08/2026 dari https://www.nobelprize.org/prizes/physics/1958/cerenkov/facts/

Liu, Z. (2022). What is Cherenkov Radiation?. IAEA. Diakses pada 12/08/2026 dari https://www.iaea.org/newscenter/news/what-is-cherenkov-radiation

ScienceDirect Topics. Cherenkov Radiation. Diakses pada 12/08/2026 dari https://www.sciencedirect.com/topics/chemistry/cherenkov-radiation

Kredit Gambar

Public Domain Mark 1.0. Foto karya University of Massachusetts, Lowell https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Reactor-core-from-above-1400-opt_tcm18-278435.jpg

CC BY 2.0. Foto karya Jason Richards/ORNL, Oak Ridge National Laboratory https://commons.wikimedia.org/wiki/File:HFIR_Refueling_July_2015_(19963344882).jpg

Dokumentasi pribadi. Ilustrasi karya Dheptian

Bagikan: WhatsApp Twitter/X

Baca Juga

Artikel terkait lainnya

Hati-Hati, Kamu Sudah Banyak Terpapar Zat Radioaktif
Berita
Hati-Hati, Kamu Sudah Banyak Terpapar Zat Radioaktif
29 May 2026 Fatikha Septi
Concorde : Misi Pengejaran Gerhana Matahari
Berita
Concorde : Misi Pengejaran Gerhana Matahari
29 May 2026 Fatikha Septi
Apakah Astronaut Merasakan Gravitasi di Luar Angkasa?
Berita
Apakah Astronaut Merasakan Gravitasi di Luar Angkasa?
09 May 2026 Fatikha Septi